//20 Tahun Seventeen, Ganti Personel dan Label, hingga Tragedi Tsunami

20 Tahun Seventeen, Ganti Personel dan Label, hingga Tragedi Tsunami

Bencana tsunami Selat Sunda yang menghantam sejumlah wilayah di Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12/2018) malam juga menjadi kabar duka bagi penggemar band Seventeen.

Dua personel band Seventeen tewas akibat tsunami yang menerjang saat band itu di atas panggung dalam sebuah acara gathering perusahaan BUMN. Satu personel band masih belum ada kabarnya hingga saat ini.

Seventeen merupakan band Indonesia beraliran pop yang karyanya banyak digandrungi masyarakat. Misalnya, lagu "Jaga Selalu Hatimu", "Ayah", "Jalan Terbaik", dan "Selalu Mengalah".

Meski keberadaannya sudah jarang terlihat di layar kaca, namun nada-nada yang mereka rangkai masih menggema di tengah masyarakat. Lagu karya Seventeen mampu bersaing dengan musik-musik baru yang seolah tiada henti mengisi industri musik Tanah Air.

Seolah tak butuh layar untuk menjaga eksistensi, Seventeen menjajal panggung demi panggung, menemui penonton dari satu festival ke festival lain, dan menyenangkan mereka dengan alunan-alunan nada yang mudah untuk diikuti.

Terbentuk pada 1999

Band ini terbentuk hampir 20 tahun yang lalu, tepatnya pada 17 Januari 1999, diprakarsai oleh lima siswa sebuah SMA swasta di Yogyakarta: Yudhi, Angga, Zozo, Herman, dan Andi.

Nama Seventeen mereka sepakati, diambil dari usia mereka yang saat itu semuanya ada di angka 17 tahun.

Untuk membuktikan keseriusan dalam membesarkan band bentukannya, mereka mencari sosok vokalis hingga terpilihlah Doni pada tahun 2000.

Pergantian Personel dan Label

Sepanjang lika-liku karier yang sudah terlewati, Seventen berhasil menelurkan lima album dengan banyak judul yang kemudian menjadi hits di pasaran dari masing-masing albumnya.

Album-album itu adalah Bintang Terpilih (2003), Sweet Seventeen (2005), Lelaki Hebat (2008), Penjaga Hati (2011), Dunia yang Indah (2011), dan Pantang Mundur (2016).

Korban tsunami Selat Sunda

Band yang menyisakan Ifan pada vokal, Andi pada drum, Herman pada gitar, dan Bani pada bas ini kembali mengalami hal tidak menyenangkan.

Pada Sabtu (22/12/2018) kemarin, mereka diterjang gelombang tsunami saat di tengah pentas memenuhi undangan PLN yang tengah mengadakan gathering di Pantai Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten.

Ombak tiba-tiba menghajar mereka yang masih ada di atas panggung, saat memainkan lagu kedua di rangkaian acara malam berbahagia itu.

Tanpa peringatan apa pun, ombak berkekuatan tinggi tiba-tiba menghantam panggung yang persis membelakangi pantai, dan membuatnya ambruk dalam seketika.

Seluruh personel yang ada di atas panggung ambruk bebarengan dengan panggung tempat mereka tampil menghibur keluarga karyawan PLN malam itu, sekitar pukul 21.30 WIB.

Ada yang hanyut terseret air hingga ke tengah lautan, terjebak tertimpa kerangka panggung, ada juga yang masih bekum ditemukan hingga saat ini.

Ifan sang vokalis berhasil lolos dari amukan alam meski sempat terombang-ambing di lautan dalam gelap dan suara histeris orang-orang di sekitarnya yang takut dan panik.

Bani dan Herman yang sempat dinyatakan hilang kemudian ditemukan di sekitar lokasi pentas dalam kondisi sudah tak bernyawa.

Namun, Andi sang penggebuk drum hingga saat ini juga belum ditemukan keberadaannya.

Ifan, satu-satunya personel yang tersisa menyimpan harapan yang besar dan memupuk yakin bahwa mukjizat Tuhan bisa terjadi di mana saja, sebagaimana musibah yang mereka terima, bisa terjadi di mana saja, dalam keadaan yang bagaimana saja.

Mereka yang sudah ditemukan akan segera dikebumikan di tanah kelahirannya masing-masing. Bani di Bantul, dan Herman di Tidore. 

Sementara Ifan, ia masih bertahan di lokasi bencana sembari mencari Andi dan istrinya yang belum juga ditemukan hingga dua hari setelah malam mencekam itu terjadi.

Hingga saat ini belum diketahui apakah Seventeen masih akan bertahan di industri musik setelah tragedi yang menimpa mereka.

Sumber: https://entertainment.kompas.com/read/2018/12/24/150027010/20-tahun-seventeen-ganti-personel-dan-label-hingga-tragedi-tsunami

2018-12-24T09:26:22+00:00December 24th, 2018|